Biarlah Dia Saja yang Bahagia


Ada seorang guru yang ku kenal. Guru yang paling ku kagumi dan paling aku sayang, Rustiana namanya. Beliau adalah motivasiku. Sesosok wanita yang tangguh dan terhormat. Aku memanggilnya bunda. Dalam dirinya, kata pacaran tidak ada.
Terlihat dari kisah cintanya, dulu ..
“Mari kita berjanji bahwa kita tak akan pernah pacaran sampai lulu SMA” kata salah seorang dari tiga siswa SMA kelas 1 itu.
Di atas gedung sekolah, di bawah sinar bintang gemilang, 3 siswi itu berjanji untuk tidak pacaran sampai mereka lulus. Mereka pun sanggup untuk melaksanakannya.
Aku heran,
Meraka adalah murit yang baru lulus SMP, tapi sudah memiliki pemikiran Agen Sbobet seperti itu. Pasti bukanlah sembarangan orang yang bisa melakukannya.
Mungkin terlintas hanya untuk saat SMA, tapi bukan bagi bundaku. Sampai kuliah pun dia masih melakukan hal yang sama.
Kisah berawal dari kedatangnya seorang perempuan yang tidak di kenal ke rumah Bunda Rustiana.
“Apa ini rumah dari mbak Rustiana?”
“Iya benar.”
“Bisa kita bicara sebentar mbak”
“Boleh, silakan masuk”
Perempuan itu lebih muda dari bunda, terlihat dari paras mukanya dan pakaiannya.
Tiba-tiba saja perempuan itu tertunduk dan mendekap kaki bunda yang sedang duduk dikursi dengan menangis sejadi-jadinya.
“kamu kanapa?” tanya bunga.
Bunda semakin bingung dengan perempuan ini. Dia tidak kenal sama sekali, lalu tiba-tiba datang ke rumah dan sekarang dia menangis.
“a-aku mencintainya, sungguh mencintainya” kata perempuan itu tersendat.
Bunda semakin bingung, apa maksud dari perempuan ini.
Lalu dia menyebutkan nama (sebut saja) Rifqi.
Sekilas bunda langsung paham maksud dari wanita ini. Kenapa dia kesini, ada apa,  dan dengan maksud apa perempuan ini rela datang jauh-jauh untuk hanya bilang dia suka dengan seorang lelaki.
Rifqi adalah partner bunda berdakwah di kampus. Dia adalah ketua dari organisasi yang dijalani bersama. Begitu juga bunda, dia juga yang memegang dari pihak aktifis wanita. Ironisnya, mereka berdua saling suka, tapi tak saling mengatakan.
Mereka berdua saling menjaga hubungan, tidak ingin niatan dakwah mereka yang suci ternodai hanya karena cinta. Namun tidak bisa dipungkiri, setiap hari bertemu, berdiskusi dan merencanakan berbagai strategi bersama membuat dua insan tersebut, saling tumbuh cinta di dada mereka.
Terlihat dari cara SMS si laki-laki kepada bunda. Sangat berbeda dengan yang awal pertama jadi partner, mulai ada basa-basi yang tidak penting, dan bunda tau kalau lelaki itu suka dengannya. Namun tak ingin menurunkan izahnya, akhirnya bunda memendam rasa suka itu. Biarlah kelak suatu hari nanti dia menjadi cinta yang haqiqi dengan mencintai yang benar-benar sudah miliknya.
Perempuan yang tidak dikenal itu pun mengaku bahwa dia adalah adik kelasnya. Dia mendatangi rumah bunda karena tau, orang yang paling dekat dengan lelaki yang dia suka cumalah bunda.
Berceritalah perempuan tersebut bahwa dia siap untuk menjadi istrinya. Dia ingin bunda agar membantu mengatakan rasanya kepada lelaki idamanya. Perempuan itu tidak tau bahwa dalam dada bunda, terasa sesak setelah mendengar semua hal yang dia sampaikan.
Dilema.
Antara tetap bertahan atau merelakan.
Andai bunda bilang kepada lelaki tersebut “aku juga suka” mungkin itu sudah akan menjadi hal yang paling membahagiakan dalam hidup. Bertemu jodoh yang ia suka, dan dia juga suka dengannya. Kurang apalagi coba?
Tapi bundaku tidak seperti itu. Sedih? pasti, dia seorang perempuan. Galau? mungkin saja iya. Namun mungkin ada hikmah yang lebih baik dari semua cinta ini.
Mungkin yang sulit untuk melepaskannya adalah karena lelaki tersebut adalah termasuk lelaki yang sholeh. Dari dia memimpin, saat kumpul  dan berdiskusi dengan lawan jenis, dia tak pernah memandang kepada lawan diskusinya.
Hebatnya lagi adalah ketika adzan sudah dikumandangkan, dia langsung beranjak dari semua aktifitasnya, meskipun itu adalah sesuatu yang mengenai pekerjaannya, sepenting apapun dia tinggalkan untuk memenuhi panggilan adzan.
Saat lagi tertawa bersama, saat masih sibuknya diskusi bersama, saat kejadian penting pun yang membutuhkan jawaban dari ketua, dia tinggalkan.
Ganteng? jangan ditanya lagi. Dia idola sekampus.
Akhirnya perempuan itu pulang dengan jawaban yang membuat hatinya tenang. Bunda hanya memberi sedikit kata.
“iya saya usahakan bilang kepadanya. Insyaallah”
Sejenak setelah kepergian perempuan itu, bundaku tertegun, merenung harus bagaimana. Mungkin juga bila lelaki tersebut diberi tau tentang kejadian ini, dia pasti akan tetap memilih bunda.
Dalam malam di berdoa agar mendapat ketangguhan hati, dan dapat melangkah lebih pasti. Dia melakukan sholat istikhoroh.
Lalu akhirnya dia mendapatkan jawaban atas semua kejadian ini. Bundaku merelakan cintanya.
Suatu siang menjelang sore di kampus,
“Mas Rifqi, aku ingin ngomong serius.” kata bundaku.
“Jangan sekarang, habis ini sudah mau masuk waktu asar.” jawab lelaki tersebut.
“Oke habis asar.”
“Insyaallah”
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Bunda yang dia bersama salah satu temanya menodong lelaki tersebut.
“Baiklah apa yang ingin kau katakan.” ujar lelaki tersebut.
“Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang serius. Tolong dengarkan baik-baik.”
“Baik.”
“Oke, bila ada seorang wanita yang mas cintai, dan mas juga mencintainya, apa yang akan mas lakukan bila ada seorang teman mas bilang bahwa dia juga mencintai wanita yang mas cintai?”
Seketika lelaki itu terdiam tanpa kata. Tak menyangka bahwa yang ditanyakan sesuatu hal yang menyakut perasaan. Beberapa menit berlalu tanpa ada obrolan.
“Apa?” kata bunda bosan menunggu.
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang”
“Lantas kapan?” jawab bunda tidak puas.
“Secepatnya insyaallah. Beri waktu aku untuk berfikir.”
Beberapa hari berlalu, lalu dia datang menghampiri bunda.
“Bagaimana?” kata bunda dengan penuh harap.
“Aku berusaha menjabab sebisaku, ku harap ini adalah jawaban yang terbaik.”
Bunda pun lebih menajamkan pendengarannya. Lalu dilanjutnya,
“Insyaallah aku akan merelakan orang yang aku cintai itu bersama orang lain.”
Bundaku pun tersenyum mendengar jawaban dari lelaki tersebut. Lalu diceritakan semua kejadian perempuan yang datang kepadanya pada beberepa malam yang lalu.
Akhirnya lelaki itu pun paham maksud dari pembicaraannya.
Beberapa tahun kemudian, setelah lelaki itu menikah degan wanita tersebut, datanglah bunda bersama teman-temannya untuk menjenguk dia yang sudah memiliki balita.
Bundaku menggendong balita kecil yang mirip dengan ayahnya tersebut, dan terdengar sekilas suara bisikan ayah dari balita tersebut saat melewati bunda.
“Seharunya ibu dari balita tersebut itu adalah kamu” kata lelaki tersebut.
Bundaku mengepalkan tangan kanannya kehadapan lelaki tersebut tanda mengancam. Semua orang yang di ruangan itu serentak melihat bunda, dan tercengang heran, ada apa sebetulnya yang terjadi.
Sejak saat itu, bunda jarang sekali berkunjung ke teman laki-laki walaupun hanya untuk melihat bayi dari temannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayah Penggemar Barang Rongsok